Niat Puasa, Lafadz "Ramadhani" lebih benar dari "Ramadhana" -->
Cari Berita

Advertisement

Niat Puasa, Lafadz "Ramadhani" lebih benar dari "Ramadhana"

Redaksi
Senin, 04 Mei 2020

Khazanah.Assalaf.id -  Sering kali kita mendengar niat puasa itu dilantunkan dalam bentuk pujian sebelum shalat atau dilafadzkan secara bersamaan ketika selesai berjamaah shalat tarawih. Namun kita sering dibingungkan sebab beberapa komunitas masyarakat khususnya warga NU membacanya dengan beberapa versi. Ada yang membacanya Ramadha’NA’ ada yang membacanya Ramadla’NI’. Dan hal tersebut sudah diperdebatkan oleh para ulama sejak zaman dulu. Lantas manakah yang benar?

Lafad ‘Ramadhan’ dalam kajian ilmu nahwu merupakan bentuk kategori isim ghair munsharif karena mempunyai akhiran huruf alif dan nun. Dalam ilmu nahwu, isim ghair munsharif mempunyai pembahasan dan hukum yang berbeda dengan isim-isim yang lain. Selain tidak bisa menerima tanwin, tanda baca untuk isim ini ketika berkedudukan ‘jer/khafadl’ itu dibaca fatihah. Sebagaimana yang diterangkan dalam satu bait alfiyah karangan Ibn Malik:

و جر بالفتحة مالا ينصرف  (*) مالم يضف او يك بعد ال ردف

“Setiap isim yang tidak munsharif dijerkan dengan harakat fatihah, selama tidak mudlof (diidlofahkan) atau tidak jatuh sesudah al.”

Jika melihat kedudukan lafad ‘Ramadhan’ dalam lafad niat di atas, maka ia berkedudukan sebagai mudlof ilahi dari lafad Syahr, tetapi ia juga menjadi mudlof pada lafad Hadzihis Sanati. Secara kaidah nahwu, seharusnya lafad ‘Ramadhan’ dibaca menggunakan harakat kasrah (harakat asli jer) menjadi RamadhaNI bukan RamadhaNA, sehingga untuk kasus ini jernya isim ghair munsharif (lafad Ramadhan) yang menggunakan fatihah tidak berlaku lagi, karena lafad Ramadhan menjadi mudlof terhadap lafad hadzihis sanati.

Dalam kitab-kitab fiqh juga diterangkan cara membacanya dengan harakat kasrah (Ramadhani), diantaranya:
kitab I’anatut Tholibin  Juz 2 Hal. 253

…(قوله: بالجر لإضافته لما بعده) أي يقرأ رمضان بالجر بالكسرة، لكونه مضافا إلى ما بعده، وهو اسم الإشارة.


Artinya: … (ucapan penulis: dengan jer, karena idlofahnya lafad Ramadhan terhadap lafad setelahnya) maksudnya lafad Ramadhan dibaca jer dengan kasrah, karena kedudukannya sebagai mudlof terhadap lafad setelahnya yaitu isim isyarah.

kitab Nihayatuzzain Hal. 186

نويت صوم غد عن اداء فرض رمضان هذه السنة لله تعالى ايمانا و احتسابا باضافة رمضان الى ما بعده لتتميزعن اضدادها و يغنى عن ذكر الاداء ان يقول عن هذا الرمضان و احتيج لذكره مع هذه السنة و ان اتحد محترزهما اذ فرض غير هذه السنة لا يكون الا قضاء لان لفظ الاداء يطلق و يراد به الفعل كذا قاله الرملى نهاية الزين ١٨٦


kitab Al Baijuri Juz 1 Hal. 430

  قوله : رمضان هذه السنة ) باضافة رمضان الى اسم الاشارة لتكون الاضافة معينة لكونه رمضان هذه السنة
البيجورى ١/٤٣٠


Akan tetapi bisa saja lafad Ramadhan dibaca menggunakan fathah dengan memberhentikan kedudukannya sebagai mudlof ilahi  dari lafad syahr. Dengan syarat lafad sesudahnya hadzihis sanah dibaca nashob dengan harakat fathah karena berkedudukan menjadi dharaf zaman. Sehingga cara membacanya adalah ‘An ada’i fardli syahri RamadhaNA hadzihis SanaTA. Akan tetapi yang demikian ini jarang digunakan oleh kitab-kitab fiqh, sebab mayoritas kitab memudlofkan lafad Ramadhan pada lafad hadzihis sanati untuk menunjukkan kekhususannya.

‎( قَوْلُهُ : بِإِضَافَةِ رَمَضَانَ ) أَيْ لِمَا بَعْدَهُ فَنُونُهُ مَكْسُورَةٌ ؛ لِأَنَّهُ مَخْفُوضٌ وَإِنَّمَا اُحْتِيجَ لِإِضَافَتِهِ إلَى مَا بَعْدَهُ ؛ لِأَنَّ قَطْعَهُ عَنْهَا يُصَيِّرُ هَذِهِ السَّنَةَ مُحْتَمَلًا لِكَوْنِهِ ظَرْفًا لِقَوْلِهِ : أَنْ يَنْوِيَ وَلَا مَعْنَى لَهُ ؛ لِأَنَّ النِّيَّةَ زَمَنُهَا يَسِيرٌ ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : إنْ جَرَرْت رَمَضَانَ بِالْكَسْرِ جَرَرْت السَّنَةَ وَإِنْ جَرَرْته بِالْفَتْحِ نَصَبْت السَّنَةَ وَحِينَئِذٍ فَنَصْبُهَا عَلَى الْقَطْعِ ، وَعَلَيْهِ فَفِي إضَافَةِ رَمَضَانَ إلَى مَا بَعْدَهُ نَظَرٌ ؛ لِأَنَّ الْعَلَمَ لَا يُضَافُ فَلْيُتَأَمَّلْ ا هـ

Kesimpulan dari pembahasan seputar niat di atas adalah:
Lafad niat puasa dalam kata “ramadlan” dibaca dengan harakat kasrah menjadi “RAMADHANI” karena selain menjadi mudlof ilaih juga menjadi mudlof bagi lafad hadihi sanati.
Seandainya diucapkan dengan lafad “RAMADHANA” dengan membaca fathah, maka diperbolehkan dan sah-sah saja, akan tetapi secara kaidah nahwu lafad “hadzihis sanata” harus ikut dibaca fathah (nashob) juga karena menjadi dzaraf zaman.
Melafadkan atau mengucapkan niat dalam ibadah dengan menggunakan bibir hukumnya adalah “SUNAH” sedangkan yang “WAJIB” adalah niat di dalam hati. Sehingga yang perlu dan sangat penting diperhatikan bukanlah melafadkan “ramadhana atau ramadhani” tetapi niat dalam hati bahwa kita akan berpuasa ramadhan esok hari. Wallahu A’lam.

Oleh: Nasyit Manaf, pernah belajar di API Pon.Pes. Tegalrejo Magelang dan sekarang masih belajar di IAIN Purwokerto/fiqhmenjawab